BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 6)

F. Realitas Sosial

Dari uraian diatas kita telah paham bahwa sosiologi membahas pola-pola hubungan yang terjadi dalam masyarakat. Pola-pola hubungan tersebut dapat menciptakan kestabilan atau keadaan yang normal namun dapat pula menimbulkan keadaan yang tidak normal, seperti terjadinya perubahan berupa modernisasi, penyimpangan dan masalah sosial lainnya. Inilah yang kita sebut realitas sosial.

Berger dan Luckman melihat realitas sosial memiliki dimensi objektif dan subjektif. Dimensi objektif dilihat dari adanya lembaga atau pranata sosial beserta nilai dan norma-normanya yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menginginkan keteraturan. Karena itu masyarakat cenderung mewariskan nilai atau norma-norma yang dianutnya kepada generasi berikutnya melalui proses internalisasi (sosialisasi). Manusia memiliki peluang untuk mendapatkan interpretasi berbeda atas realitas yang diperolehnya melalui sosialisasi (sosialisasi tidak sempurna) yang dilihatnya sebagai cermin dunia objektifnya. Interpretasi yang berbeda ini secara kolektif (bersama individu-individu lain) akan membentuk sebuah realitas baru. Proses inilah yang oleh Berger disebut sebagai eksternalisasi. Konsep-konsep sosiologi ini dapat digunakan untuk memahami dan mencari faktor-faktor penyebab suatu masalah sosial. Dari analisis tersebut dapat dicari alternatif-alternatif solusi atau pencegahannya.

Masalah Sosial

Sebuah masalah sosial sesungguhnya merupakan akibat dari interaksi sosial antarindividu, antara individu dengan kelompok atau antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Dalam keadaan normal, interaksi sosial dapat menghasilkan integrasi (keterpaduan) atau keadaan yang sesuai norma masyarakatnya. Namun, interaksi sosial juga dapat menghasilkan goncangan dalam pola hubungan antarindividu maupun kelompok, seperti terjadinya konflik.

Soerjono Soekanto mengatakan bahwa masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Apabila antara unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan-hubungan sosial akan terganggu. Akibatnya timbul kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Kriteria Umum

Masalah sosial terjadi karena ada perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dalam suatu masyarakat dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan. Artinya, ada ketidakcocokan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi pada kenyataannya. Tingkatan perbedaan tersebut berbeda untuk setiap masyarakat, tergantung pada nilai-nilai yang mereka anut bersama.

Sumber Masalah Sosial

Selain dari proses-proses sosial, masalah sosial juga berasal dari bencana alam, seperti gempa bumi, kemarau panjang, dan banjir. Contoh, banjir bukanlah suatu masalah sosial. Namun, akibat lanjutan yang ditimbulkannya seperti kehilangan tempat tinggal merupakan sebuah masalah sosial.

Pihak yang Menetapkan Masalah Sosial.

Dalam masyarakat umumnya terdapat sekelompok kecil individu yang mempunyai kekuasaan dan wewenang lebih besar dari yang lainnya untuk membuat atau menentukan apakah sesuatu dianggap masalah sosial atau bukan. Kelompok-kelompok itu antara lain pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, dewan atau musyawarah masyarakat.

Beberapa Masalah Sosial Dewasa Ini :

Kemiskinan

Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan ketika seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan masalah sosial sampai saat perdagangan berkembang dengan pesat dan memunculkan nilai-nilai baru. Dengan berkembanganya perdagangan ke seluruh dunia dan ditetapkannya taraf kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai suatu masalah sosial.

Dalam masyarakat modern, kemiskinan dilihat sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi standar kehidupan yang ada di lingkungannya. Contoh, sebuah keluarga tidak memiliki radio, televisi, sepeda motor, sementara tetangga-tetangganya memiliki harta-harta tersebut. Inilah yang menyebabkan kemiskinan menjadi masalah sosial. Secara sosiologis, sebab-sebab timbulnya problem tersebut adalah karena suatu lembaga kemasyarakatan tidak berfungsi dengan baik, yaitu lembaga kemasyarakatan di bidang ekonomi.

Kejahatan

Sosiologi berpendapat bahwa kejahatan karena kondisi dan proses sosial yang sama, yang menghasilkan perilaku sosial yang berbeda. Kejahatan terbentuk melalui proses imitasi, pelaksanaan peran sosial, asosiasi diferensiasi, kompensasi, identifikasi, konsepsi diri, dan kekecewaan yang agresif. Perilaku jahat itu dipelajari melalui pergaulan yang dekat dengan pelaku kejahatan sebelumnya. Situasi ini oleh E.H. Sutherland disebut sebagai proses asosiasi yang diferensial, karena apa yang dipelajari dalam proses tersebut sebagai akibat pola interaksi dengan pola  perilaku jahat.

Disorganisasi Keluarga

Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit, karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya. Bentuk-bentuk disorganisasi keluarga adalah keluarga yang tidak lengkap karena hubungan di luar nikah, perceraian, bruknya komunikasi antar anggota keluarga, krisis keluarga karena salah satu yang bertindak sebagai kepala keluarga, seperti meninggal, dihukum, atau karena perang, serta terganggunya keseimbangan jiwa (gila) salah satu anggota keluarga.

Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern

Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan dan sikap yang apatis. Keinginan untuk melawan antara lain ditunjukkan dalam bentuk radikalisme. Sikap ayang apatis misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua.

Dalam masyarakat yang sedang mengalami masa transisi, generasi muda seolah- olah terjepit antara norma-norma lama dan baru (yang kadang belum terbentuk). Generasi tua seolah-olah tidak menyadari bahwa sekarang ukurannya bukan lagi usia, akan tetapi kemampuan. Generasi muda sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan  kemampuannya. Dalam masyarakat perkotaan, kondisi ini diperparah lagi dengan kurangnya perhatian orangtua terhadap anaknya. Orangtua tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi perkembangan anaknya karena sibuk mencari nafkah atau mengejar prestise.

Akibatnya, timbulnya maslah-masalah sosial yang dapat diurut-urutkan sebagai berikut:

  • Persoalan sense of value yang kurang ditanamkan oleh orang tua.
  • Tumbuhnya organisasi atau kelompok muda informal yang tingkah lakunya tidak disukai oleh masyarakat.
  • Timbulnya usaha generasi muda untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang disesuaikan dengan nilai-nilai kaum muda.

Peperangan

Peperangan merupakan suatu bentuk pertentangan antara kelompok atau masyarakat (termasuk negara) yang umumnya diakhiri dengan suatu akomodasi. Umumnya pertentangan tersebut melibatkan beberapa kelompok atau masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat. Peperangan menyebabkan disorganisasi dalam pelbagai aspek kemasyarakatan, baik bagi negara yang keluar sebagai pemenang maupun yang kalah.

Pelanggaran Terhadap Norma-Norma Masyarakat :

  • Pelacuran

Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan berupa menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Faktor-faktor penyebabnya umumnya berasal dari dalam maupun dari luar si pelaku. Dari dalam faktor-faktor itu, antara lain nafsu seksual yang tinggi, sifat malas, dan keinginan untuk hidup mewah. Faktor dari luar antara lain faktor ekonomi dan urbanisasi.

  • Delikuensi Anak-Anak

Delikuensi anak-anak atau lebih dikenal sebagai kenakalan remaja umumnya berupa perilaku atau tindakan yang tidak disukai oleh masyarakat, seperti, perkelahian, kebut-kebutan, mencoret-coret fasilitas umum, merampok bus kota, atau meminta uang dan barang-barang secara paksa. Umumnya para remaja ini tergabung dalam organisasi-organisasi semi formal, seperti geng.

  • Alkoholisme

Persoalan alkoholisme dan mabuk sebetulnya bukan terletak pada boleh tidaknya, tetapi pada dimana, bilamana, dan dalam kondisi yang bagaimana. Contoh, mabuk di tengah jalan yang menganggu lalu lintas atau minum minuman keras saat mengendarai kendaraan yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan meninggalnya beberapa orang.

BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 5)

E. Kegunaan Sosiologi dalam Masyarakat

  1. Untuk pembangunan. Sosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perencanaan pelaksanaan maupun penelitian pembangunan. Pada tahap perencanaan, yang harus diperhatikan adalah apa yang menjadi kebutuhan sosial. Pada tahap pelaksanaan yang harus dilihat adalah kekuatan sosial dalam masyarakat serta proses perubahan sosialnya. Sementara itu, pada tahap penilaian yang harus dilakukan adalah analisis terhadap efek atau dampak sosial pembangunan tersebut.
  2. Untuk penelitian. Dengan perencanaan dan penyelidikan sosiologis, akan diperoleh suatu perencanaan atau pemecahan masalah sosial yang baik. Di negara yang sedang membangun, peran sosiolog sangat dibutuhkan. Dari data yang dihasilkan oleh penelitian sosiologis, para pengambil keputusan dapat menyusun rencana dan cara pemecahan suatu masalah sosial. Contohnya, cara pencegahan kenakalan remaja dan cara meningkatkan kembali rasa solidaritas antarwarga yang semakin pudar.

Peran Sosiolog

  1. Sosiolog sebagai ahli riset : Seperti semua ilmuwan lainnya, para sosiolog menaruh perhatian pada pengumpulan dan penggunaan data. Untuk itu para sosiolog melakukan riset ilmiah untuk mencari data tentang kehidupan sosial suatu masyarakat. Data itu kemudian diolah menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat.
  2. Sosiolog sebagai konsultan kebijakan : Ramalan sosiologi dapat pula membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi. Setiap keputusan kebijakan sosial adalah suatu ramalan. Artinya, kebijakan diambil dengan suatu harapan menghasilkan pengaruh atau dampak yang diinginkan. Namun sering terjadi bahwa kebijakan yang diambil tidak memenuhi harapan tersebut. Salah satu faktornya adalah ketidakakuratan kesimpulan atau dugaan yang salah terhadap permasalahannya.
  3. Sosiolog sebagai teknisi : Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka memberi saran-saran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarakat, hubungan antarkaryawan, masalah moral, maupun hubungan antarkelompok dalam suatu organisasi. Dalam kedudukan seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuwan terapan (applied scientist). Mereka dituntut untuk menggunakan pengetahuan ilmiahnya dalam mencari nilai-nilai tertentu, seperti efisiensi kerja atau efektivitas suatu program atau kegiatan masyarakat
  4. Sosiolog sebagai guru atau pendidik : Dalam menyajikan suatu fakta, seorang sosiolog harus bersikap netral dan objektif. Sosiolog dapat menyajikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam pemecahan masalah sosial. Keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang bersifat membangun serta menunujukkan apa yang telah mereka pelajari dari pengalaman-pengalaman tersebut.

BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 4)

D. Kedudukan Sosiologi Diantara Ilmu-Ilmu Lain

Sosiologi dan Ilmu Politik

Ilmu politik pada dasarnya mempelajari daya upaya untuk memperoleh, mempertahankan, dan menggunakan kekuasaan, sementara sosiologi memusatkan perhatiannya pada segi-segi masyarakat yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola yang juga umum. Bagi sosiologi, soal daya upaya untuk mendapatka kekuasaan digambarkan sebagai salah satu bentuk persaingan, pertikaian, atau konflik.

Sosiologi dan Ekonomi

Ekonomi mempelajari usaha-usaha manusia dalam memenuhi keinginan dan kebutuhan materiilnya, sementara Sosiologi mempelajari unsur-unsur dalam masyarakat secara keseluruhan.

Sosiologi dan Ilmu Sejarah

Sosiologi dan sejarah merupakan ilmu sosial yang mempelajari kejadian dan hubungan yang dialami manusia sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat. Perbedaannya sejarah menaruh perhatian hanya kepada peristiwa masa silam dan sifat unik dari peristiwa tersebut. Sedangkan sosiologi hanya memperhatikan peristiwa yang merupakan proses kemasyarakatan yang timbul dari hubungan antar manusia dalam situasi berbeda.

Sosiologi dan Antropologi

Antropologi, khususnya antropologi sosial, agak sulit dibedakan dengan sosiologi. Namun menurut Koentjaraningrat, yang membedakan sosiologi dan antropologi adalah metode ilmiahnya.

Sosiologi dan Ilmu-Ilmu Pasti

Sosiologi juga memiliki hubungan dengan ilmu-ilmu pasti, terutama dengan matematika. Dalam suatu penelitian, sosiologi menggunakan angka-angka matematis, seperti data-data statistik, sebagai salah satu alat analisisnya.

BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 3)

C. Sejarah Perkembangan Sosiologi

Sosiologi awalnya menjadi bagian dari filsafat sosial. Ilmu ini membahas tentang masyarakat. Dalam perkembangan selanjutnya, pembahasan tentang masyarakat meningkat pada cakupan yang lebih mendalam yakni menyangkut susunan kehidupan yang diharapkan norma-norma yang harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat. Sejak itu berkembanglah satu  kajian baru tentang masyarakat yang disebut sosiologi.  Menurut Berger dan Berger, sosiologi berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri karena adanya ancaman terhadap tatanan sosial yang selama ini dianggap suadah seharusnya sedemikian nyata dan benar. Menurut Laeyendecker , ancaman-ancaman tersebut menyebabkan perubahan-perubahan jangka panjang yang ketika itu sangat mengguncang masyarakat Eropa dan seakan-akan membangunkannya setelah terlena selama beberapa abad.

Auguste Comte, seorang filsuf Perancis, melihat perubahan-perubahan tersebut tidak saja bersifat positif seperti berkembangnya demokratisasi dalam masyarakat, tetapi juga berdampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah terjadinya konflik antar kelas dalam masyarakat. Comte melihat hal itu terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untk mengatur tatanan sosial masyarakat. Oleh karena itu, Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri. Kemudian ia memberi istilah bagi ilmu yang akan lahir tersebut dengan istilah Sosiologi. Karena itulah Auguste Comte dijuluki sebagai Bapak Sosiologi.

Sosiologi di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun tidak mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, para pujangga dan tokoh Indonesia telah banyak memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka. Sri Paduka Mangkunegara IV, misalnya, telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda dalam ajaran Wulang Reh.

Selanjutnya Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai peletak dasar pendidikan nasional Indonesia banyak mempraktikkan konsep-konsep penting Sosiologi seperti kepemimpinan dan kekeluargaan dalam proses pendidikan Taman Siswa yang didirikannya. Hal yang sama dapat juga kita selidiki dari berbagai karya tentang Indonesia yang ditulis oleh beberapa orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven sekitar abad 19. Mereka menggunakan unsur-unsur sosiologi sebagai kerangka berpikir untuk memahami masyarakat Indonesia. Snouck Hurgronje, misalnya, menggunakan pendekatan sosiologis untuk memahami masyarakat Aceh yang hasilnya dipergunakan oleh pemerintah Belanda untuk menguasai daerah tersebut.

Dari uraian diatas terlihat bahwa Sosiologi di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum Perang Dunia II hanya dianggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain sosiologi belum dianggap cukup penting untuk dipelajari dan digunakan sebagai ilmu pengetahuan yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Buku Sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi Indonesia yang memuat beberapa pengertian mendasar dari Sosiologi. Selanjutnya bermunculan buku-buku Sosiologi baik yang ditulis oleh orang Indonesia maupun yang merupakan terjemahan dari bahasa asing. Sebagai contoh, buku Social Changes in Yogyakarta karya Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962. Selain itu muncul pula fakultas ilmu sosial dan politik berbagai universitas di Indonesia dimana Sosiologi dipelajari lebih mendalam bahkan pada beberapa universitas didirikan jurusan Sosiologi yang diharapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan Sosiologi di Indonesia.

BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 2)

B. Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan

Sosiologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan karena mengandung unsur-unsur pokok atau syarat-syarat sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Adapun ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut:

  1. Sosiologi bersifat empiris. Sosiologi dalam melakukan kajian tentang masyarakat didasarkan pada hasil observasi, tidak spekulatif, dan hanya menggunakan akal sehat (commonsense).
  2. Sosiologi bersifat teoritis. Sosiologi berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi adalah kerangka dari unsur-unsur yang di dapat di dalam observasi, disusun secara logis, serta memiliki tujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat.
  3. Sosiologi bersifat kumulatif. Teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang telah ada sebelumnya dalam arti memperbaiki, memperluas, dan memperhalus teori-teori lama.
  4. Sosiologi bersifat non-etis. Yang dilakukan sosiologi bukan mencari baik buruknya suatu fakta, tetapi menjelaskan fakta-fakta tersebut secara analitis. Itulah sebabnya para sosiolog tidak bertugas untuk berkhotbah dan mempergunjingkan baik buruknya tingkah laku sosial suatu masyarakat.

Tokoh pertama yang meletakkan sosiologi sebgai ilmu adalah Emile Durkheim. Durkheim menyatakan bahwa sosiologi memiliki objek kajian yang jelas yaitu fakta sosial. Durkheim mendefinisikan fakta sosial ini sebagai sebuah cara bertindak, berpikir, dan merasa, yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya. Contoh, kita harus menggunakan tangan kanan ketika bersalaman, kita harus menghormati orang yang lebih tua dan mengucapkan salam ketika bertemu dengan orang lain.

Metode-Metode Sosiologi

Mengenai metode ilmiah, sosiologi mengenal dua macam metode ilmiah, yakni metode kualitatif dan kuantitatif.

  1. Metode kualitatif mengutamakan cara kerjanya dengan mendeskripsikan hasil penelitian berdasarkan penilaian-penilaian terhadap data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka.
  2. Metode kuantitatif mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka atau gejala-gejala yang diukur dengan skala, indeks, tabel, atau uji statistik.

Sementara itu langkah-langkah utama dalam sebuah penelitian sosiologi adalah sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi masalah.
  2. Merumuskan masalah dan menentukan ruang lingkup penelitian.
  3. Merumuskan hipotesa yang relevan dengan masalah yang diajukan.
  4. Memilih metode pengumpulan data.
  5. Mengumpulkan data.
  6. Menafsirkan data.
  7. Menarik kesimpulan.

BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 1)

A. Hakikat Sosiologi

Definisi Sosiologi

Sosiologi berusaha mengkaji drama kehidupan sosial manusia terutama tentang tindakan-tindakan manusia baik tindakan individual, tindakan kelompok, tindakan yang lazim(commonplace) maupun tindakan yang tidak lazim (unusual).

Berikut ini adalah pandangan dari beberapa ahli tentang pengertian dan subjek Sosiologi.

  1. Charles Ellwood mengemukakan bahwa Sosiologi merupakan pengetahuan yang menguraikan hubungan manusia dan golongannya, asal dan kemajuannya, bentuk dan kewajibannya.
  2. Gustav Ratzenhofer mengemukakan bahwa Sosiologi merupakan pengetahuan tentang hubungan manusia dengan kewajibannya untuk menyelidiki dasar dan terjadinya evolusi sosial serta kemamkmuran umum bagi anggota-anggotanya.
  3. Herbert Spencer mengemukakan bahwa Sosiologi mempelajari tumbuh, bangun, dan kewajiban masyarakat.
  4. Max Weber mengemukakan bahwa Sosiologi mempelajari tindakan-tindakan sosial.
  5. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengatakan bahwa Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
  6. Soerjono Soekanto, mengatakan bahwa Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dalam keseluruhannya dan hubungan-hubungan antara orang-orang dalam masyarakat.
  7. Mayor Polak menyatakan bahwa Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni antar hubungan diantara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, statis maupun dinamis.
  8. Hasan Shadily menyatakan bahwa Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antarmanusia yang menguasai kehidupan itu.

Dari pandangan para ahli diatas dapat kita simpulkan bahwa Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah masyarakat. Sosiologi memusatkan kajiannya pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut. Adat istiadat, tradisi, nilai-nilai hidup suatu kelompok, pengaruhnya terhadap kehidupan kelompok, proses interaksi diantara kelompok dan perkembangan lembaga-lembaga sosial merupakan perhatian Sosiologi.

Objek Sosiologi

Istilah Sosiologi berasal dari kata socius dan logos. Socius (bahasa Latin) berarti kawan dan logos (bahasa Yunani) berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, ilmu Sosiologi berarti ilmu yang berbicara mengenai masyarakat. Sebagai bagian dari ilmu sosial, objek Sosiologi adalah masyarakat. Sosiologi memfokuskan diri pada hubungan-hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan-hubungan tersebut di dalam masyarakat. Manusia sebagai objek studi Sosiologi menunjuk pada sejumlah manusia yang telah sekian lama hidup bersama dan mereka menciptakan berbagai peraturan pergaulan hidup sehingga membentuk kebudayaan. Ada beberapa unsur yang terkandung dalam istilah masyarakat ini, yakni:

  1. Sejumlah manusia yang hidup bersama dalam waktu yang relatif lama. Di dalamnya manusia saling mengerti dan merasa mempunyai harapan-harapan sebagai akibat dari hidup bersama itu. Terdapat sistem komunikasi dan peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia dalam masyarakat tersebut.
  2. Manusia yang hidup bersama itu merupakan suatu kesatuan.
  3. Manusia yang hidup bersama itu merupakan suatu sistem hidup bersama, yakni hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan di mana setiap anggota merasa dirinya masing-masing terikat dengan kelompoknya.

Pokok-pokok bahasan dalam Sosiologi antara lain:

  1. Fakta sosial (menurut Emile Durkheim)
  2. Tindakan sosial (menurut Max Weber)
  3. Khayalan sosiolologis (menurut Wright Mills)
  4. Realitas sosial (menurut Peter L. Berger)

Sosiologi menaruh minat pada studi tentang perilaku manusia dalam masyarakat. Namun demikian, para sosiolog umumnya memiliki pendekatan yang berbeda-beda dalam melihat objek Sosiologi ini. Ada yang mungkin lebih tertarik untuk mengupas tentang perilaku manusia yang menyimpang (perilaku menyimpang dan disorganisasi sosial), tetapi ada juga yang mungkin lebih tertarik mengupas aspek politik dari kehidupan sosial masyarakat (sosiologi politik). Ketertarikan yang berbeda-beda tersebut menumbuhkan berbagai spesialisasi dan sub-subilmu dalam Sosiologi dan sedikitnya sampai saat ini ada sekitar 50 spesialisasi dan subilmu dalam Sosiologi.

Beberapa Ide Mendasar dalam Sosiologi

  1. Masyarakat dan social setting lainnya seperti nilai dan norma sosial adalah hasil karya atau produk manusia.Masyarakat sebagai kenyataan objektif adalah produk manusia. Manusia dengan segala dinamikanya adalah pembentuk masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, masyarakat dimana manusia-manusia berada, nilai, dan aturan-aturan sosial yang menuntun mereka semuanya adalah produk dan buatan manusia.
  2. Masyarakat mempengaruhi dan membentuk perilaku manusia.Manusia sebagai pencipta masyarakat adalah kenyataan objektif dan masyarakat akan mempengaruhi kembali manusia yang menciptakannya. Proses ini berlangsung dalam tiga tahap, yakni eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.

Kelas X

SEMESTER 1

Standar Kompetensi :

1. Memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat

 

Kompetensi Dasar :

1.1 Menjelaskan fuungsi sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan.

1.2 Mendeskripsikan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

1.3 Mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai dasar pengembangan pola keteraturan dan dinamika kehidupan sosial.

 

Materi Pembelajaran :

1. Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarkat

2. Nilai dan Norma
3. Interaksi Sosial