BAB I : Sosiologi sebagai Ilmu tentang Masyarakat (Part 6)

F. Realitas Sosial

Dari uraian diatas kita telah paham bahwa sosiologi membahas pola-pola hubungan yang terjadi dalam masyarakat. Pola-pola hubungan tersebut dapat menciptakan kestabilan atau keadaan yang normal namun dapat pula menimbulkan keadaan yang tidak normal, seperti terjadinya perubahan berupa modernisasi, penyimpangan dan masalah sosial lainnya. Inilah yang kita sebut realitas sosial.

Berger dan Luckman melihat realitas sosial memiliki dimensi objektif dan subjektif. Dimensi objektif dilihat dari adanya lembaga atau pranata sosial beserta nilai dan norma-normanya yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung menginginkan keteraturan. Karena itu masyarakat cenderung mewariskan nilai atau norma-norma yang dianutnya kepada generasi berikutnya melalui proses internalisasi (sosialisasi). Manusia memiliki peluang untuk mendapatkan interpretasi berbeda atas realitas yang diperolehnya melalui sosialisasi (sosialisasi tidak sempurna) yang dilihatnya sebagai cermin dunia objektifnya. Interpretasi yang berbeda ini secara kolektif (bersama individu-individu lain) akan membentuk sebuah realitas baru. Proses inilah yang oleh Berger disebut sebagai eksternalisasi. Konsep-konsep sosiologi ini dapat digunakan untuk memahami dan mencari faktor-faktor penyebab suatu masalah sosial. Dari analisis tersebut dapat dicari alternatif-alternatif solusi atau pencegahannya.

Masalah Sosial

Sebuah masalah sosial sesungguhnya merupakan akibat dari interaksi sosial antarindividu, antara individu dengan kelompok atau antara suatu kelompok dengan kelompok lain. Dalam keadaan normal, interaksi sosial dapat menghasilkan integrasi (keterpaduan) atau keadaan yang sesuai norma masyarakatnya. Namun, interaksi sosial juga dapat menghasilkan goncangan dalam pola hubungan antarindividu maupun kelompok, seperti terjadinya konflik.

Soerjono Soekanto mengatakan bahwa masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Apabila antara unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan-hubungan sosial akan terganggu. Akibatnya timbul kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.

Kriteria Umum

Masalah sosial terjadi karena ada perbedaan yang mencolok antara nilai-nilai dalam suatu masyarakat dengan kondisi-kondisi nyata kehidupan. Artinya, ada ketidakcocokan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi pada kenyataannya. Tingkatan perbedaan tersebut berbeda untuk setiap masyarakat, tergantung pada nilai-nilai yang mereka anut bersama.

Sumber Masalah Sosial

Selain dari proses-proses sosial, masalah sosial juga berasal dari bencana alam, seperti gempa bumi, kemarau panjang, dan banjir. Contoh, banjir bukanlah suatu masalah sosial. Namun, akibat lanjutan yang ditimbulkannya seperti kehilangan tempat tinggal merupakan sebuah masalah sosial.

Pihak yang Menetapkan Masalah Sosial.

Dalam masyarakat umumnya terdapat sekelompok kecil individu yang mempunyai kekuasaan dan wewenang lebih besar dari yang lainnya untuk membuat atau menentukan apakah sesuatu dianggap masalah sosial atau bukan. Kelompok-kelompok itu antara lain pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi sosial, dewan atau musyawarah masyarakat.

Beberapa Masalah Sosial Dewasa Ini :

Kemiskinan

Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan ketika seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan masalah sosial sampai saat perdagangan berkembang dengan pesat dan memunculkan nilai-nilai baru. Dengan berkembanganya perdagangan ke seluruh dunia dan ditetapkannya taraf kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat, kemiskinan muncul sebagai suatu masalah sosial.

Dalam masyarakat modern, kemiskinan dilihat sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak memiliki harta yang cukup untuk memenuhi standar kehidupan yang ada di lingkungannya. Contoh, sebuah keluarga tidak memiliki radio, televisi, sepeda motor, sementara tetangga-tetangganya memiliki harta-harta tersebut. Inilah yang menyebabkan kemiskinan menjadi masalah sosial. Secara sosiologis, sebab-sebab timbulnya problem tersebut adalah karena suatu lembaga kemasyarakatan tidak berfungsi dengan baik, yaitu lembaga kemasyarakatan di bidang ekonomi.

Kejahatan

Sosiologi berpendapat bahwa kejahatan karena kondisi dan proses sosial yang sama, yang menghasilkan perilaku sosial yang berbeda. Kejahatan terbentuk melalui proses imitasi, pelaksanaan peran sosial, asosiasi diferensiasi, kompensasi, identifikasi, konsepsi diri, dan kekecewaan yang agresif. Perilaku jahat itu dipelajari melalui pergaulan yang dekat dengan pelaku kejahatan sebelumnya. Situasi ini oleh E.H. Sutherland disebut sebagai proses asosiasi yang diferensial, karena apa yang dipelajari dalam proses tersebut sebagai akibat pola interaksi dengan pola  perilaku jahat.

Disorganisasi Keluarga

Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai suatu unit, karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajibannya yang sesuai dengan peranan sosialnya. Bentuk-bentuk disorganisasi keluarga adalah keluarga yang tidak lengkap karena hubungan di luar nikah, perceraian, bruknya komunikasi antar anggota keluarga, krisis keluarga karena salah satu yang bertindak sebagai kepala keluarga, seperti meninggal, dihukum, atau karena perang, serta terganggunya keseimbangan jiwa (gila) salah satu anggota keluarga.

Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern

Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh dua ciri yang berlawanan, yakni keinginan untuk melawan dan sikap yang apatis. Keinginan untuk melawan antara lain ditunjukkan dalam bentuk radikalisme. Sikap ayang apatis misalnya penyesuaian yang membabi buta terhadap ukuran moral generasi tua.

Dalam masyarakat yang sedang mengalami masa transisi, generasi muda seolah- olah terjepit antara norma-norma lama dan baru (yang kadang belum terbentuk). Generasi tua seolah-olah tidak menyadari bahwa sekarang ukurannya bukan lagi usia, akan tetapi kemampuan. Generasi muda sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan  kemampuannya. Dalam masyarakat perkotaan, kondisi ini diperparah lagi dengan kurangnya perhatian orangtua terhadap anaknya. Orangtua tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi perkembangan anaknya karena sibuk mencari nafkah atau mengejar prestise.

Akibatnya, timbulnya maslah-masalah sosial yang dapat diurut-urutkan sebagai berikut:

  • Persoalan sense of value yang kurang ditanamkan oleh orang tua.
  • Tumbuhnya organisasi atau kelompok muda informal yang tingkah lakunya tidak disukai oleh masyarakat.
  • Timbulnya usaha generasi muda untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang disesuaikan dengan nilai-nilai kaum muda.

Peperangan

Peperangan merupakan suatu bentuk pertentangan antara kelompok atau masyarakat (termasuk negara) yang umumnya diakhiri dengan suatu akomodasi. Umumnya pertentangan tersebut melibatkan beberapa kelompok atau masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat. Peperangan menyebabkan disorganisasi dalam pelbagai aspek kemasyarakatan, baik bagi negara yang keluar sebagai pemenang maupun yang kalah.

Pelanggaran Terhadap Norma-Norma Masyarakat :

  • Pelacuran

Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan berupa menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan upah. Faktor-faktor penyebabnya umumnya berasal dari dalam maupun dari luar si pelaku. Dari dalam faktor-faktor itu, antara lain nafsu seksual yang tinggi, sifat malas, dan keinginan untuk hidup mewah. Faktor dari luar antara lain faktor ekonomi dan urbanisasi.

  • Delikuensi Anak-Anak

Delikuensi anak-anak atau lebih dikenal sebagai kenakalan remaja umumnya berupa perilaku atau tindakan yang tidak disukai oleh masyarakat, seperti, perkelahian, kebut-kebutan, mencoret-coret fasilitas umum, merampok bus kota, atau meminta uang dan barang-barang secara paksa. Umumnya para remaja ini tergabung dalam organisasi-organisasi semi formal, seperti geng.

  • Alkoholisme

Persoalan alkoholisme dan mabuk sebetulnya bukan terletak pada boleh tidaknya, tetapi pada dimana, bilamana, dan dalam kondisi yang bagaimana. Contoh, mabuk di tengah jalan yang menganggu lalu lintas atau minum minuman keras saat mengendarai kendaraan yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan meninggalnya beberapa orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s